Sehelai Benang Pemisah Dari Rasa Kebahagiaan Dan Asa Keterpurukkan.

Lagi lagi sendiri. Di ruang perpus kampus bebas polusi suara.

Dan lagi lagi ini pilihanku. Menyendiri, menarik diri dari keramaian.

*****

Fisik masih lemah, masih kalah sama rasa kantuk. Psikis masih lemah, masih kalah sama keadaan.

*****

Beberapa waktu belakangan ini, lagi banyak banget hal RANDOM yang datang silih berganti tanpa henti macem gerbong kereta api yang ga ada habisnya. Hal-hal RANDOM yang bisa bikin aku ngerasa orang paling BAHAGIA di dunia ini dan juga paling RENDAH di dunia ini.

Break the rules. Troublemaker. Childish. Etc.

Ya kurang lebih nya begitulah aku akhir-akhir ini. RANDOM kan.

*****

Starbucks Cihampelas Walk. Tempat di mana aku sama dia betul-betul pertama kali ketemu. Unsur ketidaksengajaan (mungkin) pas aku mau ke iseng main ke Ciwalk dan aku share di socmed dan someone itu bilang lagi ada di sana.

“I love my first lovely Greentea Cream from him”. -Lenafera-

Yayaya, little things yang cukup sweet buat aku.

*****

“He’s too kind. Too sweet. Too high. For me i think”. -Lenafera-

Pernah sekali aku ungkapin tentang ini ke dia. Dan dasarnya mah udah baik dari sananya, tetep weh baik. Jawaban dia amat sangat rendah hati dan wise sekali.

“He knows  how to treat a girl like me well. Respect to me. Be patient for me. Be honest to me. Moodbooster. My happines”. -Lenafera-

*****

Aku ini apa?
Apa yang lebih dari aku?
Apa yang bisa disuka dari aku?
Apa yang menarik dari aku?

Aku ini mungkin ga lebih dari manusia biasa
Yang egois, belum dewasa.
Yang lemah fisik dan psikisnya.
Yang akhirnya cuma bisa jadi beban.

oh aku tau…..

Aku mungkin penyabar.
Atau terlalu takut untuk bertindak.
Atau terlalu lemah untuk berjuang.
Atau terlalu lelah untuk bertahan.

*****

“Adakah yang bisa aku lakukan selain menjadi beban buat dia?”

Di sini adalah titik di mana aku merasa telah menjadi manusia yang paling RENDAH di dunia.

Sehelai benang pemisah dari rasa kebahagiaan dan asa keterpurukkan.

Thank’s Bates.

Image

Aku mengerti.
Untuk semua yang telah kita lalui.
Aku mengerti.
Untuk semua kata yang kau ucap.
Aku mengerti.
Apa arti kamu di hidupku.
Aku mengerti.
Kamu tak pernah luput dari rindu.
Aku mengerti.
Hatiku tak pernah lepas dari namamu.
Aku mengerti.
Hampir seluruh nafasku adalah kamu.
Aku mengerti.
Sebagian besar aku hidup karna ada kamu.
Aku mengerti.
Apa arti aku dihidupmu.
Aku mengerti.
Aku tidak seberapa d hidupmu.
Aku mengerti.
Hatiku terlalu lemah atas sikapmu.
Aku mengerti.
Aku hanya dianggap sebagai parasit.
Aku mengerti.
Dia akan selalu lebih.
Dan aku mengerti.
Kamu tak pernah jujur atas dirimu.

Sekarang aku mengerti.
Kamu terlalu tinggi.
Aku mengerti.
Kamu terlalu jauh.
Dan akhirnya aku mengerti.
Sudah saatnya aku berhenti.

Helena, 19 Januari 2014

Helena on fire…

Tentang dia yang akhirnya bangkit dari tidur panjangnya.

Helena.

Udah sekian lama aku bisa menahan, mengontrol, dan membuatnya tetap stay in the darkness. Sebelumnya aku MASIH BISA mengontrol kapan dia boleh keluar dan sebaliknya serta seberapa besar dia boleh bertindak dan mengambil alih keadaan. Dan kalo boleh berbangga, sebelumnya aku juga masih bisa memberikan contoh buat halfsoul Helena. Yeah, if you know who i’m talking about.

Sepanjang sejarah aku hidup yang aku inget sih dia tidak begitu suka menampakkan diri, apalagi di depan banyak orang. Setiap detik dia mencoba mendobrak keluar, aku masih bisa membujuknya yang pada akhirnya dia menjadi tenang dan terkontrol. Kalo kata aku sih, dia itu sosok yang mungkin lebih condong ke selfdiffense. Mungkin segala bentuk hal seperti amarah dansebagainya yang tujuannya demi membela aku atau kebaikan aku sendiri. Yayayaya, walopun cara dia banyak yang salah sih. Suka nyolot, tempramen, no mercy.

Semuanya masih dalam pengawasan dan masih terkontrol, sampai akhirnya semua situasi dan kondisi hidup aku berubah drastis 180 derajat.

Dia makin susah di kontrol. Mulai sering memberontak keluar. Makin sulit di bujuk.

Awalnya mungkin aku masih bisa menahan semua hantsman keras yang dia kasih demi tercapainya tujuan supaya dia bisa keluar. Masih tuh aku tahan. Terus. Terus. Terus. Sampai akhirnya ibarat sebuah pintu, itu pintu udah mulai retak kena hantaman keras yang makin sering dilakuin. Mulai retak sedikit, sedikit, sedikit. Sampai akhirnya retakan itu mulai menjalar kemana-mana.

Aku yang berdiri dan berusaha menahan di sisi pintu sebaliknya, mulai lelah. Mulai lengah. Mulai kalah. Hantaman keras tanpa henti. Dengan kondisi pintu yang makin tak berbentuk. Retak sana sini. Kalo udah gitu, pasti kalian tau lah ya kejadian selanjutnya apa.

Pintunya hancur. Alhasil, dia bebas keluar sesuka hati dia. Dan ternyata, dia berhasil keluar di waktu yang sangat amat tidak tepat. Dan aku? Powerless. Begitu dia merasakan kebebasan, dia mulai sesuka hati. Berbuat semaunya, tanpa ada yang bisa mengontrolnya. Wah destruktif. Pengrusak. Semuanya dia rusak. Tertawa tanpa beban, berlagak bagaikan seorang ratu berdarah dingin yang berkuasa.

Adasatu hal yang sampai saat ini aku sendiri ga percaya. Ada hal yang telah dia perbuat. Dan aku, jujur aku marah. Aku kecewa sama dia.

Berani-beraninya dia menyakiti myhalfsoul.

Seinget aku, apapun yang aku alami, baik itu kejadian buruk sekalipun yang menimpa di diri aku. Sebisa mungkin aku hindari apapun yang berdampak menyakitkan pada myhalfsoul. Dan begitu pula dengan Helena. Aku juga selalu mencoba mencegah apapun alasannya, supaya dia tidak menyentuk serta menyakiti siapapun yang aku anggap tidak layak untuk disakiti.

Aduh.*tabok pipi tabok pipi*

Kali ini dia bandel. Dia membangkang. Dan setelah aku mencoba mengerti kenapa dia seperti itu, aku tau sekarang. Dia menganggap bahwa selama ini dia lelah harus terus dikurung di dalam ruangan yang dibentuk oleh tembok tembus pandang. Lelah karna setiap waktu, telalu banyak hal yang ingin dia lakukan untuk aku ya mungkin maksudnya membela aku kali ya. Tapi aku nya selalu menahan dia supaya keluar. Ya intinya, dia muak.

Di situ aku ga bisa apa-apa. She’s too powerfull. Sampai akhirnya aku tau, klo halfsoul dia datang. Katanya sih mencoba menarik dia, dan mencoba memberikan pengertian bahwa bukan mereka yang berhak menentukan hidup. And yea, i agree.

Aduh, bahkan sampai saat ini Helena masih suka terngiang dengan semua perkataan halfsoulnya.

Dan ga lama kemudian, mereka berdua pergi.

Aduh aduh aduh. Kok kesannya mereka aja yang awalnya menurut aku hanyalah sekumpulan amarah dan emosi belaka aja bisa se-so sweet itu. Saling merangkul, bergenggaman tangan dan kemudian pufff. Mereka pergi menghilang, dan kembali untuk tidur panjang.

Aku mau lah bisa gitu. Pasangan hidup yang so sweet. Akakaka.

Helena enak banget yah, udah dapet pasangannya sendiri *jitak kepalanya Helena* xD

FAKE FRIENDS?!

Image

 

 

HATI-HATI terhadap ciri-ciri teman yang hanya menggunakan “TOPENG” belaka seperti di bawah ini :

 
Suka Memanfaatkan 
 
teman jenis ini sering mengumbar kata kata manis. Misalnya saja, “kita akan selalu bersama sama, entah itu di saat senang maupun susah”. Namun ternyata, ia hanya mendekati anda hanya ketika ada keperluan. Hey wake up! orang seperti itu sama sekali tidak pantas di jadikan teman! karena ketika tujuan nya sudah tercapai, ia tak akan lagi ingat dengan anda. Ya, kecuali jika ia punya keperluan lagi.
 
 
 
Pengkhianat
 
Jika anda memiliki teman dengan ciri seperti ini, cepat hapus ia dari list teman anda! Siapa pun tak ada yang mau di sakiti bukan? TEMAN DENGAN CIRI PENGHIANAT SANGATLAH KEJAM. Dia mampu MEREBUT apa saja yang menjadi milik anda. Misalnya saja, KEKASIH ANDA!
 
Atau bukan hanya itu saja. Selama ini anda sering berkeluh kesah kepadanya, mencurahkan seluruh rahasia anda kepadanya. Namun, tanpa anda sadari, ia malah menggunjingkan rahasia anda tersebut di belakang anda. Dan hasilnya? Semua rahasia anda pun menyebar bak jamur di musim hujan. Jika sudah sadar, anda harus lebih berhati hati lagi.
 
 
 
Pematah Semangat 
 
Spesis teman seperti ini akan terus membuat anda tidak sukses. Ia akan selalu melemparkan statement statemen pesismis di setiap anda ingin melangkah maju. Dan ia juga senang membuat anda bimbang. Tak hanya itu saja, teman jenis ini juga senang mencari kesalahan anda. Andalah yang selalu di tempatkan di pihak yang salah. Mau sampai kapan hal ini terjadi? Cepat ambil keputusan anda!
 
 
 
Ingkar Janji 
 
Nah, ini juga termasuk sifat yang sangat menyebalkan. Ia sering sekali mengumbar umbar janji. Atau mengungucapkan janji kepada anda. Dan setiap kali berjanji, setiap kali pula ia langgar. Bahkan sering beralasan lupa terhadap janjinya. Teman dengan jenis ini seharusnya anda hindari. Karena sama sekali tidak bisa di harapkan sebagi teman yang baik. Malahan nantinya hanya akan menyusahkan anda saja. Apalagi janji tersebut merupakan janji yang sangat penting.

Mungkin ini bukan amarah, melainkan perasaan Kecewa

Buat hari ini, terhitung udah mulai cukup banyak hal yang ingin aku tulis.

This time, my heart was broken. Again.

Who. Where. When. I don’t want to know again.

When i’ve tried to hold, to fix the last pieces of my heart.

And now all of that things has changed into a dust.

Some people are just people.

Your enemy can be your bestfriend.

And your bestfriend also can be your enemy.

 

Bukan pendendam, bukan orang yang suka marah-marah gajelas ke orang lain. Di saat seorang ‘aku’ lagi terjatuh, buat aku orang yang memang seringkali ada di samping aku yah temen-temen. Temen yang selalu terlihat care, atau pura-pura care. Ga terlalu peduli sih sama orang yang cuma bisa jadi “fake person/friend”. Selama dia ga ngeganggu dan ga ngerugiin aku, yaudah jalanin aja. Sama, aku juga gitu, disaat ada seseorang yang (apalagi temen dan udah  deket banget) terlihat sedang butuh uluran tangan. Kalo aku bisa, dengan kemampuan semaksimal mungkin aku bakalan kok berusaha membantu.

That’s was friend do. Care, honest, trust, and remembering you when you actually do or have bad things, etc. Even if that way what your friend do for make you can be a better person would make you angry, sad, cry, etc. That’s the real friendship i think.

 

Ternyata di antara semua itu, aku ngerasain hal yang jujur itu bikin sakitnya udah gatau lagi bisa dideskripsinya kayak apaan. Mungkin ini salah satu perasaan yang dinamakan ‘kecewa’. Sedih kenapa musti begini. Bingung aku musti gimana dan apa sih kesalahan aku sama orang itu sampe tega begini? Dan yang paling jadi permasalahan, kenapa harus dia. My friend/bestfriend/sister/family. Why? I can’t say anything again. Speechless. It’s just too hurting me so much. Thank’s a lot.

 

Mirror mirror on the wall

Who is the real fake person of them all

Can you  tell me in my dream

So i can be careful with them

-Helena-

#1

Helena

She’s another me

She’s my anger, the destructive one

The one who still inside of me until my last breath

Yeah, people use to called it, the demon

#2

Never give up

Never want to give “forgiveness”

Never forget what you’ve done wrong to her

Never want to listen the right one

Never want to see the bright one

Just ego, emotions, and hatred

#3

This demon

Sometimes annoying me, and also helping me

Sometimes I just can’t control her

I can’t control what she want to do

To me, or to another people

It’s to compicated

#4

I’ve tried to make her stay in her place.

I’ve tried to make this demon can’t go out from me

From my body and my mind

And for a couple a year, it works

She can find in the deep of me

In peace

#5

But now lately, she’s awake

From his deep sleep

Into a nightmare of my life

She’s destroy everthing she want too

She make me lose my mind

Make me blind and make me feel disappear

#6

She’s my another soul

My another mind

And my another body

If she can out and took all of my control

That’s must be a very serious reason

#7

Don’t you want to try call this demon

Or want and wish to meet with her

Coz I won’t it too

This is to powerful, dangerous

And if you’ve meet her

Just try to forgive and forget

-LVB-

Bandung

Oct 9, 2013

Aku Memilih Mundur

Merasakan sesuatu yang hanya membuat aku menangis hingga tersedu-sedu. Untuk apa?
Jika kebahagiaanku ‘masih’ harus aku pertaruhkan untuk hal yang hanya tidak sebanding, untuk apa aku pertahankan.
Ada yang bilang, ini hanyalah perbuatan yang sia-sia. Lari dari kenyataan.
Mungkin memang begitu. Tak apa. Sebut saja begitu.
Memilih mundur adalah pilihan terbaik yang aku miliki saat ini.
Dan sebab mengapa aku memilih begini tentu ada alasan yang berbeda pada setiap orang yang aku tuju.
Jangan berpikir jelek dulu. Dan jangan merasa pede dulu.

Karena iblis hanya akan keluar pada kalian yang telah memanggilnya.

Kisah

#1
Memberikan asa
Pada hati tanpa rasa
Goresan penuh dosa
Pada apa yang dinamakan masa

#2
Terduduk diam
Hening dalam kelam
Jiwa ragaku tenggelam
Dengan hadirnya malam

#3
Setitik celah
Seakan membelah
Memilih untuk menelaah
Hingga akhirnya lelah

#4
Telah mati
Seketika menepi
Ku pikir mengerti
Namun hanya menyepi

#5
Meski hadir saat itu
Permintaan yang semu
Tersadar akan sesuatu
Hingga tangisan menggebu

#6
Tiada sanggup
Ketika jantung berdegup
Kenyataan yang menyatakan cukup
Lalu kisahpun tertutup

Random feeling makes me CRAZY!

Hi guys!

Akhirnya aku ada kesempatan juga buat CURHAT lagi di sini.

 

Sekedar berbagi cerita, berbagi rasa, dan berbagi pengalaman. Random feeling. Suatu perasaan yang aneh dan entah kenapa bisa gitu. Suatu perasaan yang suka tiba-tiba ada dan tiba-tiba hilang gitu aja. Suatu perasaan yang ada unsur-unsur negatif. Dan buat aku, Random feeling ini agak sedikit mengganggu. Secara ngga sadar si random feeling ini bikin mood ngedrop dan galau tiba-tiba. Sungguh aneh tapi nyata :/

Kalo udah perasaan random ini datang. Segala sesuatu serba salah, serba runyam. Kalau lagi ketemu orang lain, jadi lebih sering ditanyain “Kamu kenapa? lagi bete ya?”. Dan kalau udah ditanyain gitu, I’ve no idea what to say. Serius deh. Lagi pengen duduk dan diam. Males ngelakuin hal yang macem-macem. Dan, sensitif, i mean aku itu bisa jadi ‘galak’. Kalau dipikir, terdapat sedikit persamaan ketika aku lagi PMS. Yaaa, galak-galak dikit, judes-judes dikit. Tapi tetep ada kok perbedaannya yang aku juga masih bingung itu apa. Ya biasalah, someone like me yang lebih sering ‘yaudahlahya’ yang bikin males mikir macem-macem. Let it go. Let it flow. Kalo raa macet dikit, wajar lah yaa.

Kalo boleh dibilang, akhir-akhir ini memang aku sedikit (yakin cuma sedikit? :/ ) eh agak banyak memikirkan hal yang sebetulnya ngapain juga aku pikirin. Jelas cuma buang-buang waktu dan tenaga. Tapi disini permasalahannya. Masalah yang -buat aku sih- udah gabisa ditanggepin dengan ‘yaudahlahya’.

Yang pertama, itu mengenai beberapa flashback yang -Jujur aku gamau punya ingatan seperti itu dan aku pengen banget lupa semua kejadian itu-. Kenapa? karna setiap keingetan sama flashback itu, aku selalu nangis. Air mata aku keluar gitu aja. Ga hanya itu, Setiap detail kejadian masih terlintas dengan jelas di ingatan. Dan itu bagaikan sebilah pedang yang terus menerus mengejar dan mencoba untuk menebas. Aku takut. 

Yang kedua, aku sedih dan kecewa sama diri aku sendiri yang – lagi lagi selalu ngalah dan menutup semua perasaan sakit dengan terus memakai topeng bertuliskan “Aku kuat, aku bisa, aku biasa, dan aku bahagia.”-. Semua orang tau, bahkan nenek-nenek bangkotan pun tau kalo itu penipuan terhadap diri sendiri ndah.

Yang ketiga, aku cukup kecewa sama seseorang. Entah masih sama atau sudah berkurang atau malah bertambah kadarnya. Hal itu masih belum bisa aku liat. Masih tertutup rapat. Masih banyak petunjuk dan penjelasan lainnya yang masih aku tunggu. Soalnya semua itu yang akan jadi kunci untuk seterusnya. Kunci dari sebuah gerbang harapan yang aku pandang dan aku harap betul-betul bisa terbuka dan masuk melewatinya.

Yang keempat, aku sedih. Aku sendiri masih belum bisa dengan benar dan baik untuk berpikir serta memutuskan tindakan apa yang seharusnya aku ambil dan tidak. Untuk terus maju atau berhenti. Untuk terus menggenggam atau melepaskan. Untuk terus menangis atau tertawa. Untuk terus melihat atau terpejam. Untuk menjadi peduli atau tidak. Untuk mengejar atau membiarkan.

Untuk melakukan semua itu, aku butuh penuntun arah, membantu aku membuka mata dan melihat dari berbagai sudut. Aku butuh pundak yang mau aku sandari. Aku butuh sebuah pelukan yang menenangkan. Aku butuh usapan di kepala yang lembut. Aku butuh hati yang secara jujur, serta tulus dalam menyimak dan mendengarkan. Kemauan untuk lebih melihat ke dalam, dan lebih mencoba merasakan apa yang aku alami.

Ya, aku butuh itu semua.